Kamis, 19 Januari 2012

Masjid Co. = Masjid Impian


Walaupun tidak terlalu kotor, dengan sigap sang cleaning service mengelap lantai beberapa kali. Sesekali juga matanya menangkap ada sampah yang dijatuhkan orang walaupun kecil. Dengan sigap pula ia pungut sampah itu dan dibuang ke tempatnya. Semua itu ia lakukan dengan cepat dan tanpa mengomel. Dan yang lebih hebat, ia tetap bisa ramah.
Sementara itu diluar, petugas parkir  segera mengarahkan motor yang masuk ke jalurnya. Ia berusaha menunjukkan sang pengunjung tempat yang masih kosong. Si pengendara motor juga diberi karcis agar motornya mudah dikontrol dan menghindari kehilangan. Begitu pula jika ada mobil masuk, si petugas parkir degan cepat menuntunnya ke tempat yang tersedia. Jika sang pengendara ingin keluar kembali dengan mobilnya, sang petugas parkir dengan sigap pula “mengamankan” jalan agar si pengemudi bisa jalan dengan lancar.
Mau nitip barang juga tenang karena petugasnya ramah, dan sistemnya bagus. Jadi kita bisa tenang kalau barang bawaan kita banyak. Dan semua petugas tadi keren-keren, pakaian seragamnya bagus, dan … mereka digaji secara professional. Kita pun senang dapat pelayanan seperti di atas.

Kantor Allah
Tapi sayang, pelayanan di atas hanya terjadi di mal-mal, bukan di masjid-masjid. Padahal masjid lebih layak untuk dibuat seperti itu. Karena masjid adalah rumah Allah, kantor Allah, tempat dimana kita hambaNya bertemu dengan Allah sebagai bos kita. Jika mal bisa dikelola seperti di atas, tentu masjid  juga bisa.
Maka aku bermimpi bagaimana  masjid itu dikelola seperti perusahaan-perusahaan profesional dan bonafid. Sebutlah jamaah adalah pemegang sahamnya. Dan mereka adalah para penduduk sekitar. Mereka menyumbang sesuai kemampuan namun harus rutin. Pertama, agar jamaah merasa memiliki rumah Allah itu. Kedua, saham berupa sedekah  itu akan menjadi pemancing rezeki Allah yang lebih besar lagi. Jadi nggak ada alasan bahwa yang menjadi pemegang saham adalah semua warga, bukan yang kaya saja. Bukankah gak hanya orang kaya yang mau rezekinya dilipatgandakan. Sementara itu banyak orang miskin bingung mau bagaimana agar uang mereka berlipat ganda, padahal jawabannya ada di masjid lho.

Ada Job Description dan S.O.P
Lalu warga yang sudah menjadi pemegang saham tersebut bisa milih tim pengelolanya atau manajemen masjid. Sebagaimana layaknya perusahaan, tentu yang dipilih harus mereka yang memiliki kompetensi dan curriculum vitae yang layak, sehingga masjid benar-benar dikelola dengan baik. Jadi masjid bukan dikelola oleh mereka yang punya nama di masyarakat tapi gak punya waktu. Masjid yang menjadi masjid company (Masjid Co.) ini kemudian akan merekrut warga yang masih menganggur atau belum ada pekerjaan. Mereka akan dilatih sesuai job descriptionnya. Mereka akan diberi SOP (Standart Operating Procedure), dan KPI (Key Performance Indicator) yang sesuai. Setiap bulan mereka akan diberi pelatihan SDM dengan mengundang trainer-trainer yang berkompeten.
Sistem SDM juga harus membuat para karyawan masjid co. untuk bisa berkembang. Maka mereka harus punya standarisasi dan sertifikasi. Karena itu selain memilih manajemen, rapat pemegang saham dari jamaah tersebut juga memilih komisaris yang nantinya akan ikut mengawasi pelaksanaan manajemen harian.
Untuk keuangan, biasanya tak sedikit orang yang ikhlas menyumbang sebagian hartanya. Bahkan saking banyaknya, sering terlihat bahwa kas masjid berlimpah namun tidak ada kegiatan. Sehingga kebanyakan pengurus hanya berniat untuk merehab atau memugar masjid agar lebih besar atau lebih indah.

“Saham” Jamaah
Untuk masjid co. ini, manajemen dilatih untuk tidak hanya berharap dari saham jamaah atau sedekah, namun juga bisa memutar saham tersebut untuk aktifitas dakwah yang produktif. Pertama masjid co. akan membangun bangunan lain di lingkungan masjid sebagai sentra usaha. Sentra usaha tersebut karena akan dimiliki semua jamaah, maka akan berbentuk koperasi atau PT. Sehingga jamaah bisa ikut memiliki, ikut membeli produknya, ikut memasarkannya, dan tentu saja ikut sejahtera seiring kemajuan usaha.
Lalu masjid co. juga membangun unit usaha sentra penyimpanan uang jamaahnya. Sehingga jamaah tidak harus menjadi nasabah perbankan ribawi yang ada dimana-mana, dan susah jika harus dipinjam. Maka unit keuangan ini juga meminjamkan dananya untuk jamaah sebagai nasabah. Sehingga jika ada jamaah yang ingin buka usaha, tinggal datang aja kesini. Akses modal tersedia. Ia juga tidak akan ngemplang, karena unit simpan pinjam ini juga miliknya, dan masjid co. juga miliknya. Ia malahan berusaha agar bisa memberi bagi hasil saat usahanya berjalan kelak. Dengan model seperti ini, tentu masjid co. bisa membantu menghapus pengangguran dengan cara sederhana namun riel. Anak-anak muda yang kreatif jadi tidak dipaksa untuk ngelamar kerja atau terpaksa merantau ke tampat yang jauh.  Kas masjid co. juga tidak hanya untuk memugar masjid, namun untuk meng-upgrade kualitas hidup jamaahnya.

Unit Sosial
Masjid Co. juga akan membangun unit pelayanan sosial ke jamaah. Maka akan dibangunlah kantor dokter 24 jam islami, apotek herbal. Dan dibuatlah dana asuransi syariah untuk semua jamaah. Sehingga jika ada jamaah yang sakit berat dan harus dirujuk ke rumah sakit yang besar, mereka bisa terbantu dengan dana tanggungan (asuransi) itu. Untuk yang meninggal, dibuatkan sistem fardhu kifayah yang memudahkan. Untuk yang melahirkan juga gak perlu khawatir, karena ada tersedia bidan jamaah yang snagat islami. Tentu ini akan membuat jamaah tidak pernah khawatir tentang hidupnya, sehingga mereka tekun beribadah dan mencintai masjid mereka.
Untuk anak-anak dan remaja, masjid bisa menyediakan halaman yang cukup untuk aktifitas olahraga atau fisik. Disinilah masjid bisa memperkenalkan olahraga yang mengutamakan tertutupnya aurat namun tetap berkeringat. Maka saat inilah diperlukan unit remaja masjid. Jadi mereka tidak melulu didorong ikut pengajian. Di unit ini juga disediakan ruangan untuk kursus atau bimbel, sehingga yang lebih pintar bisa mengajar kepada adik atau saudaranya yang lain dalam sebuah sistem. Setiap bulan bisa dibuat acara rihlah (tour) ke kota-kota terdekat atau objek-objek wisata agar mereka semakin rajin menyebut kata subhanallah melihat indahnya ciptaanNya. Dengan cara ini juga makan para pelajar merasa bahagia bisa menjadi anggota remaja masjid dan mereka pun makin cinta dengan masjid mereka.
Dengan masjid co. maka minimal akan dibutuhkan 50 karyawan yang semuanya digaji dari aktifitas mereka sendiri, dan konsumennya pun jelas. Hal ini akan membuat masyarakat mandiri, terberdayakan, dan banyak aspek islami terselamatkan. Sang manajer masjid bisa mempertanggungjawabkan di depan rapat jamaah. Dan jika sistem sukses, serta jamaah makin solid, maka non muslim pun iri dengan sistem ini sehinga ini menjadi dakwah nyata yang betul-betul rahmatan lil alamin@


*masjid co. = masjid berpengelolaan company

Tidak ada komentar:

Posting Komentar