Sabtu, 21 Januari 2012

Indahnya Nikah


♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Percayakah Anda kalau menikah itu adalah sesuatu yang indah ? Secara lisan mungkin Anda bilang “percaya”, tetapi memang itu sulit dirasakan tanpa menjalaninya, jadi bisa dibilang sebenarnya Anda belum yakin betul. Kadang banyak sekali alasan dari mulut Anda kenapa Anda tidak segera menikah, diantaranya :
Belum selesai kuliah / sekolahnya
Secara finansial belum mampu.

Anda sedang menjalani suatu pekerjaan yang mensyaratkan tidak boleh menikah dalam jangka waktu tertentu.
Belum ketemu yang cocok atau belum dapat jodoh.
Masih ingin bersenang-senang menikmati masa muda.
Belum mendapatkan restu dari orang tua (mungkin orang tua Anda merasa tidak cocok dengan calon pasangan Anda).
Takut kepada lawan jenis.
Merasa jelek. Seringnya malah saya ketemu orang yang merasa paling ganteng dan paling cantik sedunia seperti saya dan istri saya, he he he…
Belum berani bertanggung jawab.
dan lain sebagainya…

Dan karena menikah, Anda akan dapat kehilangan :
Waktu untuk berkumpul dengan teman-teman.
Waktu untuk menyalurkan hobi. Malah bisa-bisa Anda kehilangan hobi lama Anda.
Kesenangan-kesenangan pribadi, misalnya merokok, minum, menggosip, memakai pakaian minim, dan sebagainya – yang kebanyakan sebenarnya adalah hawa nafsu Anda.

Semua alasan di atas adalah alasan yang sebenarnya timbul dari dalam hati Anda. Hati adalah sesuatu yang sangat rentan pengaruh, baik dari dalam diri Anda sendiri maupun dari luar. Apabila dapat mempengaruhi hati dengan agama, dengan berdzikir kepada-Nya, menyebut nama-Nya, itu jauh lebih baik. Yakinlah dengan seyakin-yakinnya, ridho Allah SWT jauh lebih baik daripada dunia seisinya.

Dan alasan-alasan tersebut sesungguhnya bisa disiasati. Misalnya, Anda belum selesai kuliah. Seringnya ini dihubungkan dengan tradisi orang-orang tua kita, kalau mau menikah harus “jadi orang” dulu, sekolah » kerja » menikah. Malah ada yang menyisipkan ketentuan harus mempunyai harta yang cukup (bisa cukup tabungan yang banyak, cukup 3 mobil, cukup 1 rumah mewah, dsb). Dan lucunya ini jadi standar wajib.

Padahal belajar adalah suatu proses seumur hidup, dari mulai di dalam rahim sampai kita mati. Tidak ada salahnya menikah di saat kuliah. Konsekuensinya mungkin hanya masalah pembagian waktu. Atur waktu agar bisa bekerja paruh waktu. Saat menjalankan waktu untuk kuliah atau belajar atau membuat skripsi, konsentrasikan tenaga dan pikiran Anda. Begitu juga saat Anda bekerja paruh waktu. Kuncinya, atur waktu dan atur konsentrasi.

Bagaimana apabila Anda merasa secara finansial belum mampu ?
QS 24. An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini adalah motivasi utama untuk yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Anda akan menjadi super yakin apabila Anda sudah menikah dan menjalaninya. Tetapi Anda harus mau sabar dan tawakkal kepada Allah serta tetap berusaha, bahkan saat Anda benar-benar kehabisan uang. Jangan jalani maksiat dan pekerjaan yang haram hanya karena Anda tidak punya uang. Kalau Anda bilang tidak punya uang, saya percaya. Tetapi kalau Anda bilang tidak bisa makan, saya 100% tidak percaya.

Apabila Anda sedang menjalani suatu pekerjaan yang mensyaratkan tidak boleh menikah dalam jangka waktu tertentu, tetaplah jalani pekerjaan tersebut dan jagalah keinginan Anda untuk menikah. Untuk lebih yakin lagi, bilang ke orang tua dan calon mertua dan jelaskan keadaan Anda, berjanjilah untuk segera menikah setelah jangka waktu tersebut lewat dan sekaligus minta restu mereka.

Belum ketemu yang cocok ? Itu tergantung kriteria Anda. Tidak perlu berlebihan dalam hal ini. Yang paling pokok adalah pasangan yang Anda inginkan paling tidak harus seiman dengan Anda. Dan juga lihat diri Anda sendiri. Kalau Anda “begini” kemungkinan Anda akan mendapatkan pasangan yang “begini” pula. Apabila Anda merasa bertampang jelek, ya jangan mengharapkan pasangan yang ganteng atau cantik sekali.

Kalau Anda cuma lulusan SMA, ya jangan terlalu berharap dapat yang lulusan S2. Alhamdulillah saya dapat istri yang cantik sekali yang tadinya saya tidak mengira dia mau sama saya. Waktu itu saya minta petunjuk Allah agar saya mantap untuk mengajak nikah dia. Dan ternyata dia benar-benar mau. Kuncinya, batasi kriteria Anda hanya dengan batasan apa yang ada di Al Qur’an dan sunnah Nabi, semakin banyak batasan yang kita tentukan sendiri akan semakin sulit kita bertemu yang cocok. Dan selalu minta petunjuk-Nya.

Jodoh itu termasuk ketentuan Allah yang kita sendiri tidak tahu, tetapi Insya Allah kita pasti akan mendapatkannya.

 Jalannya bermacam-macam. Orang tua saya dulu bertemu lewat sahabat pena, kakak saya ada yang dicarikan oleh saudara, ada yang dikenalkan temannya dengan hanya melihat fotonya, dan saya sendiri dari chatting via IRC dan Yahoo Messenger. Anda mungkin sudah sering menjumpai ayat ini di undangan pernikahan : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS 30. Ar Ruum ayat 21).  

Jangan cuma dibaca, saatnya untuk mendapatkan dan merasakan kekuasaan-Nya !

Orang tua juga terkadang belum memberikan persetujuan hanya karena tidak cocok dengan calon pasangan kita. Sebaiknya kita lihat dulu, apa masalahnya. Mungkin orang tua kurang “sreg”, misalnya karena berambut gondrong, terlihat urakan, berkelakuan buruk, mempunyai pekerjaan haram atau suka bermaksiat dsb. Untuk yang semacam ini, ajaklah pasangan Anda untuk memperbaiki diri terutama yang berhubungan dengan akhlak dan bersabarlah. Sering-sering perlihatkan pasangan Anda ke orang tua. Ada pepatah “tak kenal maka tak sayang”, jadi bisa saja karena orang tua Anda belum begitu kenal. Biasanya ini hanya masalah waktu. Berprasangka baiklah kepada Allah dan orang tua.

Tetapi apabila orang tua tidak setuju karena alasan yang “aneh-aneh”, misalnya karena harta atau karena bukan keturunan ningrat (ini biasanya cuma ada di sinetron), terangkan pelan-pelan dengan bahasa yang sopan kepada orang tua bahwa hal semacam itu tidaklah penting. Apabila orang tua masih berkeras juga dan Anda sudah mantap dengan pilihan Anda, mau terus atau mau mematuhi orang tua, ya silahkan saja. Di satu sisi restu orang tua (terutama ibu) itu penting, tetapi kewajiban Anda untuk menurut kepada orang tua hanya apabila itu benar di mata Allah dan tetap berbuat baiklah kepada orang tua.

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS 6. Al An’aam 151)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS 17. Al Israa’ 23)

Kemudian tentang hobi, kesenangan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hawa nafsu. Percayalah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik karena dengan menikah berarti Anda mematuhi perintah Allah dan sunnah Nabi. Allah akan senang kepada hamba-Nya yang mau mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Anda akan merasakan indahnya menikah karena :
Anda bisa mengajak pasangan Anda ke arah kebaikan, menjadi pendakwah bagi pasangan dan anak, dan otomatis Anda akan mengetahui lebih banyak lagi tentang agama sekaligus mempraktekkannya bersama keluarga Anda. Kalau berdakwah ke orang lain mungkin Anda masih malu-malu, tentu saja itu tidak berlaku apabila Anda berdakwah ke pasangan dan anak Anda.

Allah akan selalu menolong Anda dan menikah akan membuat Anda lebih menyadari bahwa Allah selalu memperhatikan Anda. Doa Anda akan lebih cepat dikabulkan.
Ada sesuatu yang tadinya diharamkan menjadi halal karena menikah.
Nafsu duniawi Anda lebih terkontrol.

Saat anak Anda lahir, sang ayah akan mempunyai kesempatan untuk ber-adzan di telinganya.
Kalau buat diri saya, keindahan-keindahan di atas sudah melebihi segala keindahan sebelum menikah. Maka dari itu bersegeralah. Kalau Anda masih bingung tata cara pernikahan, banyak buku yang bisa Anda baca. Kalau Anda masih takut juga untuk menikah, yakinkan diri Anda bahwa menikah adalah salah satu jenis hijrah (merubah diri untuk menjadi lebih baik).

Allah Ya Rahmaan…
Allah Ya Rahiim…

Semoga bermanfaat InsyaAllah...

Perjalanan Hidup

Pada suatu hari sepasang suami istri sedang makan bersama di rumahnya.Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang laki-laki berpakaian lusuh. Melihat keadaannya, si istri merasa terharu dan dia bermaksud hendak memberikan sesuatu. Tetapi sebelumnya, sebagai seorang wanita yang sholihah dan patuh pada kepada suaminya, dia meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, “Wahai suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada laki-laki itu ?”
Rupanya suaminya memiliki karakter yang berbeda dengan wanita itu. Dengan suara lantang dan kasar menjawab, “Tidak usah ! Usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!”
Si wanita terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada si laki-laki tadi sehingga dia berlalu dan kecewa.

Pada suatu hari yang naas perdagangan suaminya jatuh bangkrut. Kekayaannya habis dan ia menderita banyak hutang. Selain itu, karena ketidak cocokan sifat dengan istrinya, rumah tangganya menjadi berantakan sehingga terjadilah perceraian. Tak lama sesudah habis masa iddahnya mantan istri lelaki yang pailit itu menikah lagi dengan seorang pedagang di kota dan hidup berbahagia.

Pada suatu hari ketika wanita itu sedang makan dengan suaminya (yang baru), tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintunya dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian lusuh & kotor, dan sangat mengharukan hati wanita itu. Maka wanita itu berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada laki-laki ini ?” Suaminya menjawab, “Yaa… Berikanlah ia makan !”.

Setelah memberi makanan, istrinya masuk ke dalam rumah sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis ? Apakah engkau menangis karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepadanya ?”. Wanita itu menggeleng halus, lalu berkata dengan nada sedih, “Wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan taqdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau siapa laki-laki yang ada di luar itu ? Dia adalah suamiku yang pertama dulu”. Mendengar keterangan istrinya demikian, sang suami sedikit terkejut, tapi segera ia balik bertanya, “Dan engkau, tahukah engkau siapa aku yang kini menjadi suamimu ini ? Aku adalah seorang laki-laki yang dulu diusirnya !”

3 IDIOTS: MENYENTIL SISTEM PENDIDIKAN

Ga bosen-bosennya aku nonton film ini. Banyak pelajaran berharga yang termuat dalam film hindi ini, terutama perubahan sudut pandang kita terhadap arti perguruan tinggi.
Coba aku mau tanya, seberapa banyak mahasiwa yang niat kuliah bukan karena mengejar ijazah? aku kira sangat sedikit, karena sebagian besar kita kekampus untuk sebuah status, untuk sebuah ijazah. Tak heran kalo kita dipacu untuk meraih nilai yang terbaik, bukan meraih ilmu yang terbaik. Dibentuk untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bukan melahirkan lapangan pekerjaan.
Dalam film ini juga kita diajak untuk mengenali kelebihan kita, jadikan itu hobi sekaligus profesi. Bagaimana bisa kita mencintai fotografi, tapi malah kawin dengan mesin. Bakat menyanyi tapi kerja sebagai akuntan. Pola pengenalan bakat perlu diterapkan pada anak2 kita kelak, sehingga tak ada lagi orangtua yang memaksakan cita-citanya dengan memasung cita-cita anaknya sendiri.
Soal cinta, ini pun disinggung dan ngena banget. Rasa cinta itu definisi sederhananya seperti ini, menurut rancho:
  1. saat kau bersamanya, pernahkah kau merasa ada angin yang berhembus?
  2. bumi bergerak lambat?
  3. bulan terlihat lebih besar dari langit?
Kalo tidak merasakan hal itu, kamu berarti belum merasa jatuh cinta sama seseorang. Filosofi yang tak ada kebenaran mutlak didalamnya, tapi aku setuju dengan hal itu hehe…

Kamis, 19 Januari 2012

Masjid Co. = Masjid Impian


Walaupun tidak terlalu kotor, dengan sigap sang cleaning service mengelap lantai beberapa kali. Sesekali juga matanya menangkap ada sampah yang dijatuhkan orang walaupun kecil. Dengan sigap pula ia pungut sampah itu dan dibuang ke tempatnya. Semua itu ia lakukan dengan cepat dan tanpa mengomel. Dan yang lebih hebat, ia tetap bisa ramah.
Sementara itu diluar, petugas parkir  segera mengarahkan motor yang masuk ke jalurnya. Ia berusaha menunjukkan sang pengunjung tempat yang masih kosong. Si pengendara motor juga diberi karcis agar motornya mudah dikontrol dan menghindari kehilangan. Begitu pula jika ada mobil masuk, si petugas parkir degan cepat menuntunnya ke tempat yang tersedia. Jika sang pengendara ingin keluar kembali dengan mobilnya, sang petugas parkir dengan sigap pula “mengamankan” jalan agar si pengemudi bisa jalan dengan lancar.
Mau nitip barang juga tenang karena petugasnya ramah, dan sistemnya bagus. Jadi kita bisa tenang kalau barang bawaan kita banyak. Dan semua petugas tadi keren-keren, pakaian seragamnya bagus, dan … mereka digaji secara professional. Kita pun senang dapat pelayanan seperti di atas.

Kantor Allah
Tapi sayang, pelayanan di atas hanya terjadi di mal-mal, bukan di masjid-masjid. Padahal masjid lebih layak untuk dibuat seperti itu. Karena masjid adalah rumah Allah, kantor Allah, tempat dimana kita hambaNya bertemu dengan Allah sebagai bos kita. Jika mal bisa dikelola seperti di atas, tentu masjid  juga bisa.
Maka aku bermimpi bagaimana  masjid itu dikelola seperti perusahaan-perusahaan profesional dan bonafid. Sebutlah jamaah adalah pemegang sahamnya. Dan mereka adalah para penduduk sekitar. Mereka menyumbang sesuai kemampuan namun harus rutin. Pertama, agar jamaah merasa memiliki rumah Allah itu. Kedua, saham berupa sedekah  itu akan menjadi pemancing rezeki Allah yang lebih besar lagi. Jadi nggak ada alasan bahwa yang menjadi pemegang saham adalah semua warga, bukan yang kaya saja. Bukankah gak hanya orang kaya yang mau rezekinya dilipatgandakan. Sementara itu banyak orang miskin bingung mau bagaimana agar uang mereka berlipat ganda, padahal jawabannya ada di masjid lho.

Ada Job Description dan S.O.P
Lalu warga yang sudah menjadi pemegang saham tersebut bisa milih tim pengelolanya atau manajemen masjid. Sebagaimana layaknya perusahaan, tentu yang dipilih harus mereka yang memiliki kompetensi dan curriculum vitae yang layak, sehingga masjid benar-benar dikelola dengan baik. Jadi masjid bukan dikelola oleh mereka yang punya nama di masyarakat tapi gak punya waktu. Masjid yang menjadi masjid company (Masjid Co.) ini kemudian akan merekrut warga yang masih menganggur atau belum ada pekerjaan. Mereka akan dilatih sesuai job descriptionnya. Mereka akan diberi SOP (Standart Operating Procedure), dan KPI (Key Performance Indicator) yang sesuai. Setiap bulan mereka akan diberi pelatihan SDM dengan mengundang trainer-trainer yang berkompeten.
Sistem SDM juga harus membuat para karyawan masjid co. untuk bisa berkembang. Maka mereka harus punya standarisasi dan sertifikasi. Karena itu selain memilih manajemen, rapat pemegang saham dari jamaah tersebut juga memilih komisaris yang nantinya akan ikut mengawasi pelaksanaan manajemen harian.
Untuk keuangan, biasanya tak sedikit orang yang ikhlas menyumbang sebagian hartanya. Bahkan saking banyaknya, sering terlihat bahwa kas masjid berlimpah namun tidak ada kegiatan. Sehingga kebanyakan pengurus hanya berniat untuk merehab atau memugar masjid agar lebih besar atau lebih indah.

“Saham” Jamaah
Untuk masjid co. ini, manajemen dilatih untuk tidak hanya berharap dari saham jamaah atau sedekah, namun juga bisa memutar saham tersebut untuk aktifitas dakwah yang produktif. Pertama masjid co. akan membangun bangunan lain di lingkungan masjid sebagai sentra usaha. Sentra usaha tersebut karena akan dimiliki semua jamaah, maka akan berbentuk koperasi atau PT. Sehingga jamaah bisa ikut memiliki, ikut membeli produknya, ikut memasarkannya, dan tentu saja ikut sejahtera seiring kemajuan usaha.
Lalu masjid co. juga membangun unit usaha sentra penyimpanan uang jamaahnya. Sehingga jamaah tidak harus menjadi nasabah perbankan ribawi yang ada dimana-mana, dan susah jika harus dipinjam. Maka unit keuangan ini juga meminjamkan dananya untuk jamaah sebagai nasabah. Sehingga jika ada jamaah yang ingin buka usaha, tinggal datang aja kesini. Akses modal tersedia. Ia juga tidak akan ngemplang, karena unit simpan pinjam ini juga miliknya, dan masjid co. juga miliknya. Ia malahan berusaha agar bisa memberi bagi hasil saat usahanya berjalan kelak. Dengan model seperti ini, tentu masjid co. bisa membantu menghapus pengangguran dengan cara sederhana namun riel. Anak-anak muda yang kreatif jadi tidak dipaksa untuk ngelamar kerja atau terpaksa merantau ke tampat yang jauh.  Kas masjid co. juga tidak hanya untuk memugar masjid, namun untuk meng-upgrade kualitas hidup jamaahnya.

Unit Sosial
Masjid Co. juga akan membangun unit pelayanan sosial ke jamaah. Maka akan dibangunlah kantor dokter 24 jam islami, apotek herbal. Dan dibuatlah dana asuransi syariah untuk semua jamaah. Sehingga jika ada jamaah yang sakit berat dan harus dirujuk ke rumah sakit yang besar, mereka bisa terbantu dengan dana tanggungan (asuransi) itu. Untuk yang meninggal, dibuatkan sistem fardhu kifayah yang memudahkan. Untuk yang melahirkan juga gak perlu khawatir, karena ada tersedia bidan jamaah yang snagat islami. Tentu ini akan membuat jamaah tidak pernah khawatir tentang hidupnya, sehingga mereka tekun beribadah dan mencintai masjid mereka.
Untuk anak-anak dan remaja, masjid bisa menyediakan halaman yang cukup untuk aktifitas olahraga atau fisik. Disinilah masjid bisa memperkenalkan olahraga yang mengutamakan tertutupnya aurat namun tetap berkeringat. Maka saat inilah diperlukan unit remaja masjid. Jadi mereka tidak melulu didorong ikut pengajian. Di unit ini juga disediakan ruangan untuk kursus atau bimbel, sehingga yang lebih pintar bisa mengajar kepada adik atau saudaranya yang lain dalam sebuah sistem. Setiap bulan bisa dibuat acara rihlah (tour) ke kota-kota terdekat atau objek-objek wisata agar mereka semakin rajin menyebut kata subhanallah melihat indahnya ciptaanNya. Dengan cara ini juga makan para pelajar merasa bahagia bisa menjadi anggota remaja masjid dan mereka pun makin cinta dengan masjid mereka.
Dengan masjid co. maka minimal akan dibutuhkan 50 karyawan yang semuanya digaji dari aktifitas mereka sendiri, dan konsumennya pun jelas. Hal ini akan membuat masyarakat mandiri, terberdayakan, dan banyak aspek islami terselamatkan. Sang manajer masjid bisa mempertanggungjawabkan di depan rapat jamaah. Dan jika sistem sukses, serta jamaah makin solid, maka non muslim pun iri dengan sistem ini sehinga ini menjadi dakwah nyata yang betul-betul rahmatan lil alamin@


*masjid co. = masjid berpengelolaan company

Sabtu, 14 Januari 2012

I am not smart, but I am not stupid …

“You are smart!” dengan spontan kupuji salah satu peserta belajarku.
Tapi ia malah menjawab. “No, sir, I am not smart”. Dengan spontan pula saya kaget.
“So, are you stupid?” tanya saya kemudian.
Ia malah menggeleng, “No, mister …”
“So …” saya jadi bingung karena ada pilihan tapi keduanya gak dipilih.
“Not smart, but not stupid”
Di lain waktu, saya tanya peserta seminar di sebuah kampus, “Apakah Anda kaya? Jika iya, angkat tangan!” Tak ada satu pun yang tangkat tangan.
“Lalu apakah Anda miskin? Yang miskin silahkan angkat tangan?” Tak ada pula yang mengikuti.
“Lalu?” tanya saya.
“Sedang-sedang aja …... “
Dan isi percakapan di paragraf di atas bukan hal aneh. Ini sering kita jumpai di sekitar kita. Memang tidak menyebut diri pintar atau kaya adalah salah satu tanda bahwa kita adalah masyarakat yang rendah hati. Tapi ketika “tidak mau” mengaku bodoh atau miskin, sementara pilihan sudah habis tentu agak mengherankan. Dan sosiolog terkemuka Mochtar Lubis mengatakan bahwa salah satu cirri masyarakat kita adalah cari aman.
Sebenarnya ketika mengaku pintar, maka si murid khawatir kemudian hal itu akan menjadi beban bagi mereka. Bisa saja setelah mengaku pintar, mereka malah ditunjuk menjadi utusan sekolah misalnya, atau malahan soal-soal tes diperberat.
Sementara mengaku bodoh mereka pun enggan. Karena jelas ini menjatuhkan harga diri, dan malah akan sering disorot atau diberi perhatian khusus. Maka para siswa ini mengambil jalan aman : “kami tidak pintar dan juga tidak bodoh.” Dengan ini tentu mereka berharap tidak dibebani sebagaimana orang pintar dan tidak disorot sebagaiamana sisiwa bodoh. Main aman saja.
Begitu pula ketika ditanya tentang, kayakah kita? Tak ada yang mau mengaku miskin, karena takut jatuh harga diri, dipandang rendah dan takut dikasihani. Tapi sebaliknya gak mau juga mengaku kaya. Karena konsekuensi kaya adalah harus banyak memberi. Padahal belum tentu isi dompet mencukupi untuk diri sendiri.

Saya Bukan Orang Soleh
Dan lebih lucu lagi jika masuk wilayah agama, masyarakat kita makin menunjukkan keanehan. Hampir tak ada orang di sekitar kita yang mau mengaku sebagai orang soleh. Mereka jadi enggan ke masjid sering-sering, karena khawatir dilabeli ustadz. Dan kalau sudah dapat label begitu, mereka merasa hidup kok jadi gak bebas lagi ya. Tapi sebaliknya tak ada seorang pun yang mau mengaku sebagai pendurhaka. Aneh, kan? Padahal jelas-jelas lawan kata sholeh adalah durhaka.
Inilah salah satu tipikal masyarakat kita, suka bermain di wilayah abu-abu. Akhirnya orang seperti ini jadi cenderung oportunis. Di kampus mengaku tidak miskin, tapi beasiswa untuk membantu mahasiswa miskin diambil juga. Di masyrakat, ia tidak mau jadi pedagang atau wirausahawan tapi memilih jadi pelayan masyarakat (PNS), namun banyak amanahnya dijualbelikan, ada proyek negera, dia jadi makelar ala bisnis.

Ibu Hebat Pak Habibie
Dan tahukah Anda bahwa tipikal orang seperti ini sulit meraih kesuksesan. Karena jelas integritas mereka hilang, tak punya prinsip dan orang lain pun hanya mau berhubungan dengannya saat ada kesempatan untung saja. Mereka tidak akan pernah bisa maju, walaupun tidak susah susah amat. Yah, mediocre gitulah …
Coba Anda baca biografi BJ Habibie. Lihatlah apa yang dipesankan sang ibu kepada anaknya saat berkuliah di Jerman!
Nak, jangan engkau ambil beasiswa. Itu untuk mahasiswa tidak mampu. Ibu masih mampu membiayaimu… Sebuah integritas kelas satu yang ditularkan sang ibu pada anaknya. Maka wajarlah Habibie menjadi orang hebat negeri ini, karena ia dilahirkan dari seorang ibu yang hebat.
Dan Jepang lebih “gila” lagi. Lihat yang dilakukan pemuda-pemudanya. Mereka bahkan tidak mau “dikuliahkan” orang tuanya. Mereka pinjam uang orang tuanya, dan mereka akan berusaha untuk mengembalikannya. Mereka tidak aji mumpung. Tapi mereka sudah punya harga diri bahkan di depan orang yang melahirkan mereka.
Mudah-mudahan kita tidak menjadi satu dari sekian banyak warga bangsa oportunis. Tahunya bagaimana? Jawab pertanyaan saya di atas, “Anda kaya atau miskin?” dan “Anda pintar atau bodoh”. Dan silahkan nilai diri Anda sendiri@

Selasa, 11 Januari 2011

Tanda Persahabatan yang Sehat

Ada tiga hal yang anda harus sadari tentang hubungan pertemanan anda. Hal-hal tersebut yang dapat mencerminkan apakah hubungan pertemanan anda sehat atau tidak.
1. Anda sadar kalau hubungan pertemanan anda sehat bila anda merasa senang berada didekat teman-teman anda. Sedangkan pertemanan yang tidak sehat dapat membuat anda marah, sedih, takut, atau cemas.
2. Pertemanan yang sehat melibatkan keseimbangan antara memberi dan menerima. Sedangkan yang tidak sehat ada ketidakadilan dalam keseimbangan itu. Anda mungkin sering merasa bahwa anda lebih banyak memberi perhatian pada teman anda dibandingkan yang diberikan teman anda pada anda.
3. Anda seharusnya merasa aman berada didekat teman anda dan anda merasa dapat mempercayakan rahasia anda padanya. Dalam pertemanan yang sehat, anda akan merasa senang menghabiskan waktu bersama teman-teman anda bukan merasa dipaksa untuk menghabiskan waktu bersama mereka.
Hubungan yang tidak sehat tidak melibatkan kepercayaan dan saling menghargai didalamnya. Padahal kedua hal tersebut adalah hal yang peling penting dalam sebuah hubungan baik dengan keluarga, teman, atau kekasih. Tidak ada seorang pun yang pantas memiliki hubungan yang tidak sehat.

Kita Adalah Raja

Kita adalah RAJA dari pikiran
kita sendiri.

Oleh sebab itu usahakanlah selalu
berprasangka positif, dan hindari
pikiran negatif.

Sebagai 'raja' yang baik, kita
harus mampu untuk slalu memilih
respon positif, meski di tengah
lingkungan paling buruk sekalipun!


Jangan pernah berkata atau merasa
'aku gak layak..'  Bercita-citalah
yang besar... berpikirlah maju!

Kita tidak diciptakan untuk menjadi
kalah, tapi diciptakan untuk
memberikan kemenangan!
:-)

Salam Luar Biasa dari sahabatmu,